Bootcamp atau kuliah. Ini pernah menjadi salah satu pilihan terberat bagi saya, saat itu saya tidak lolos SNMPTN dan tidak yakin dengan hasil SBMPTN saya. Lalu terpikir untuk mengikuti bootcamp dan tidak kuliah jika tidak lolos. Hal ini sudah saya pikirkan dengan matang karena ketertarikan saya pada teknologi sedari dulu. Bootcamp sendiri adalah program pelatihan yang berlangsung secara intensif, dengan materi yang telah terancang sedemikian rupa kebanyakan mengenai IT, yaitu belajar bahasa pemrograman. Namun, tidak melulu tentang IT, bootcamp ada juga yang berupa pelatihan bahasa asing. Sedangkan kuliah adalah tempat di mana kita menuntut ilmu selama ±4 tahun.
Ada beberapa faktor yang dapat Anda pertimbangkan :
1. Dari segi waktu
Bootcamp biasanya memakan waktu lebih sedikit, berkisar 3-6 bulan. Dalam rentang waktu yang sebentar itu Anda akan diberikan materi dan praktek yang akan disampaikan ahlinya dan tentunya lebih teratur karena ada learning path yang disesuaikan oleh ahlinya. Oleh karena itu, bootcamp lebih baik daripada belajar secara otodidak. Bootcamp sendiri terfokus pada satu tujuan, misalnya Anda mengikuti bootcamp Data science, maka yang diajarkan hanya bahasa pemrograman yang berkaitan untuk data science saja.
Kuliah memakan waktu 4 tahun (8 semester) jika tidak mengulang, bahkan yang paling cepat adalah 3,5 tahun. Di perkuliahan Anda akan diberi lebih banyak materi, dan bahkan terkadang materi yang bisa dibilang tidak relevan dengan jurusan Anda. Kuliah sendiri tidak memfokuskan kepada satu tujuan, misalnya Anda ingin menjadi Front-end developer, Anda hanya perlu menguasai HTML, CSS, dan Javascript. Namun, di perkuliahan akan diajarkan dari basic, seperti C++, C, C#, dan lainnya. Hal ini pun tidak diajarkan sampai Anda mahir, kebanyakan hanya mengajarkan dasarnya dan mahasiswa mengasahnya sendiri.
2. Dari segi biaya
Biaya UKT di universitas tentu lebih mahal daripada bootcamp. Apalagi jika anda masuk PTS ternama maupun PTN lewat jalur mandiri tanpa bantuan KIP atau beasiswa lainnya. Uang pangkalnya pun beragam. Namun, lain cerita jika anda lolos lewat SNMPTN/SBMPTN, atau mendapat beasiswa. Karena lewat jalur tersebut tidak ada uang pangkal dan UKT yang diberikan sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah. Terlebih lagi, UKT tersebut dibayar setiap semester, Anda bisa membayangkan berapa banyak pengeluaran yang dihabiskan.
Bootcamp sendiri biayanya beragam tergantung penyelenggaranya. Bahkan ada yang hanya membayar DP, sisanya dibayar saat sudah bekerja. Beberapa juga memberikan refund jika tidak berhasil paham/mendapat pekerjaan. Namun, ada juga yang biayanya setara atau lebih dengan kuliah 8 semester. Bootcamp ini biasanya bekerjasama dengan perusahaan ternama dan menjanjikan lulusan mereka akan langsung mendapat kerja disana.
3. Dari segi pengalaman yang didapat
Pengalaman yang didapat lewat kuliah mungkin akan lebih banyak, sebab ada masa orientasi, organisasi, himpunan, dan lainnya. Namun, tidak menutup pengalama di bootcamp tidak ada. Lewat bootcamp akan ada project yang dilakukan berkelompok untuk menyelesaikan suatu case atau menciptakan sesuatu yang tentunya melatih kerjasama tim lebih kompleks daripada di perkuliahan, pengajarnya juga ahli di bidangnya.
Mungkin banyak yang berpikir jika tidak kuliah maka tidak sukses, gelar adalah segalanya. Namun, ada alternatif lain yang mampu Anda lakukan. Pasalnya, skill menjadi hal yang paling penting di dunia kerja. Percuma kamu sarjana, tapi skill kamu kurang. Contohnya Abang saya sarjana Administrasi negara, tetapi bekerja sebagai UX Designer yang sudah berbeda jalur dari jurusan asalnya berkat skill yang dipelajarinya secara otodidak. Jadi, lewat beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan tersebut agar tidak salah memilih.
0 Comments